h1

Fog Street: Kisah Cinta di Pagi yang Berkabut

Juli 1, 2008

fog_street_poster.jpg

Genre: Romance, Drama City Broadcast Network: KBS2 Pemeran: Kim Jeong Hoon sebagai Park Yoon Soo (wartawan Art & People merangkap sebagai sebagai loper koran) Ryu Hyun Kyung sebagai Jung Hyo (kurator galeri senis dan seorang gadis yang suka berjalan sedang tidur)

Filem lepas ini dibuka dengan adegan seorang loper mengantar koran di waktu Subuh. Dalam perjalanan mengantar koran, ia melihat dengan seorang gadis yang tengah duduk termenung di taman. Ia tertegun melihat gadis yang seorang diri duduk di Subuh hari tanpa teman.

Pada Subuh kedua, ia melihat lagi gadis yang sama, di taman yang sama. Namun kali ini gadis itu tidak duduk termenung, namun tengah asyik berdansa sendiri sambil bersenandung. Gadis berambut sebahu itu dihampiri oleh seorang pria iseng yang tengah mabuk dan hendak memperkosanya. Beruntunglah loper koran tadi menyelamatkannya.

Siang harinya loper koran yang ternyata juga berprofesi sebagai wartawan itu mengunjungi pameran di sebuah galeri seni. Di sana ia bertemu dengan gadis yang dijumpainya di taman. Tetapi gadis tersebut tidak mengenalinya sama sekali.

Loper yang juga wartawan itu bernama Park Yoon Soo. Ia ditugasi oleh bosnya untuk mewawancarai sekaligus memotret “gadis taman” itu. Karena “gadis taman” itu sangat sibuk, ia hanya mengambil potretnya saja. Selama pemotretan gadis itu masih tetap tidak ingat pada Yoon Soo.

Yoon Soo pun menawarkan pada “gadis taman yang bernama Jung Hyo untuk minum teh herbal. Teh herbal tadi berguna untuk membantu mengobati orang insomnia yang susah tidur. Jung Hyo hanya bisa “bengong” mendegar penjelasan Yoon Soo.

Keesokan subuhnya Yoon Soo kembali bertemu Jung Hyo yang masih asyik menari. Yoon Soo tergoda untuk berhenti dan duduk di taman dengan Jung Hyo. Karena duduk terlalu dekat dengan “gadis taman” itu, Yoon Soo tidak tahan untuk menciumnya. Namun niatnya urung melihat gadis itu tertidur dengan pulas. Yoon Soo menyelimutinya dengan jaket hijau yang dikenakannya.

Yoon Soo pun ikut-ikutan tertidur di taman dan terbangun saat ada telepon dari bosnya yang mengabarkan banyak orang komplain karena surat kabar mereka belum datang. Saat bangun di rumahnya, Jung Hyo kaget saat tahu ada jaket hijau yang dikenakannya. Ia pun bingung dan menebak-nebak jaket siapa yang dikenakannya.

Siangnya waktu Yoon Soo ketemu dengan Jung Hyo, lagi-lagi gadis tersebut tidak mengenali Yoon Soo. Jung Hyo hanya mengenalinya sebagai wartawan yang kemarin memotretnya. Saat bertemu Yoon Soo menghadiahi compact disc Johan Sebastian Bach kepadanya. Dikatakan dengan mendengarkan compact disc tersebut, Jung Hyo akan gampang tertidur.

Esok subuhnya Yoon Soo kembali bertemu dengan Jung Hyo, ia mengajak Jung Hyo ikut bersamanya melihat perkebunan tanaman herbal. Tanaman herbal juga diyakini berkhasiat membantu kesembuhan penderita insomnia. Yoon Soo menunggu di kafe, karena ia janjian ketemu di sana dengan Jung Hyo.

Jam 10 pagi ia sudah datang. Tak lama kemudian dia melihat Jung Hyo melambaikan tangan dari seberang jalan ke arahnya. Namun Yoon Soo “kecele”, ternyata “gadis taman” itu tidak mengenalinya, ia menghampiri pria yang berada dekat Yoon Soo. Dari percakapan mereka, Yoon Soo bisa menyimpulkan kalau pria yang didekati Jung Hyo adalah kekasihnya.

Yoon Soo tidak terima dengan perlakuan Jung Hyo. Ia merasa ditipu dan dikhianati. Seperti filem Korea pada umumnya, saat seseorang kecewa ia pasti akan minum-minum sebagai tempat pelampiasan. Wartawan itu pun mabuk dan duduk di depan rumah Jung Hyo.

Waktu pulang berkencan dengan kekasihnya Jung Hyo melihat wartawan yang memotret dan mewawancarainya tengah duduk di depan rumahnya dan mabuk. Ia hanya bisa heran, saat wartawan tadi bicara dalam mabuknya “Aku tulus mencintaimu, tetapi mengapa kau bisa pergi dengan lelaki lain?”

Keesokan subuhnya Yoon Soo mendapati Jung Hyo tergeletak di taman. Ia buru-buru membawanya ke Rumah Sakit. Dari dokter yang merawatnya, ia tahu kalau “gadis taman” itu ternyata hanya tertidur nyenyak. Satu hal yang mengejutkan ternyata gadis tersebut mempunyai “penyakit” suka jalan-jalan sambil tidur dan tidak ingat dengan apa yang terjadi dan kalaupun ingat ia menganggap kejadian yang sebenarnya nyata—hanya sebagai sebuah mimpi.

Merasa berterimakasih, Jung Hyo mengajak Yoon Soo berkencan. Namun karena dia baru sadar dari tidur ia tidak mempunyai uang untuk membeli makanan, demikian pula Yoon Soo. Ia menyuruh Jung Hyo menggadaikan kalungnya. Tetapi diam-diam Yoon Soo menyimpannya dan justru menggadaikan kameranya – alat andalannya dalam bertugas sebagai seorang wartawan.

Sesampai di rumah Jung Hyo, kekasihnya telah menunggu, karena ia dan ibunya bingung Jung Hyo menghilang dari semalam. Dari kejauhan ia melihat Yoon Soo memberikan kalung gadisnya dengan mesra.

Terpicu oleh adegan tersebut, kekasih Jung Hyo segera mengajaknya menikah, tetapi ia ragu-ragu. Jung Hyo mengingatkan lagi kalau janji mereka adalah tahun depan. Apalagi kekasihnya belum tahu tentang penyakitnya yang susah tidur– yang sebelumnya kekasihnya pernah cerita kelau dia alergi dengan orang yang punya penyakit seperti itu.

Keesokan harinya Yoon Soo mengembalikan jaket merah yang ditemukan di taman. Jung Hyo mengatakan kalau lain kali jangan mengembalikannya, karena dengan perlakuan begitu mengingatkannya tentang penyakitnya yang membuatnya ngeri, karena ia bisa tidur dan berjalan di mana saja. Dan setelah itu ia tidak mengingat apa-apa lagi, hal itulah yang membuatnya tersiksa. Jung Hyo juga mengembalikan jaket hijau, jaket asing yang dikenakannya saat terbangun dari tidurnya. Ia yakin jaket itu milik Yoon Soo. Penasaran dengan apa yang terjadi dengan malam-malam sebelumnya, Jung Hyo sengaja begadang tidak tidur. Ia menanti apa yang terjadi di taman sendirian, di tengah malam gulita. Tak dinyana ada 3 pria iseng yang mencoba memperkosanya. Untunglah Yoon Soo datang tepat waktu dan berkelahi dengan kelompok pemuda iseng tadi. Di saat terdesak, Yoon Soo menyuruh Jung Hyo melarikan diri dengan sepedanya.

Sesampai di rumah, ibu Jung Hyo kaget melihat wajah anaknya dan bajunya yang robek. Kekasihnya memaksanya ke kantor polisi melaporkan kejadian tersebut dan menyerahkan sepeda sebagai barang bukti. Yoon Soo pun tersangka, ia diciduk dan dipenjara. Sementara Jung Hyo tidak mau mengungkap kejadian sebenarnya, takut ibu dan kekasihnya tentang penyakit yang dideritanya.

Karena takut penyakitnya kambuh lagi, Jung Hyo minta teman perempuannya menemaninya tidur. Saat temannya tertidur, Jung Hyo yang penasaran dengan apa yang terjadi pergi diam-diam ke taman tempat biasanya ia menghabiskan sisa tidurnya. Di sana ia bertemu dengan Yoon Soo dalam keadaan sadar – meski wartawan tadi tidak menyadarinya. Dia bisa menilai Yoon Soo ternyata adalah pemuda yang sopan, tidak mengambil kesempatan saat dirinya tidak sadar.

Subuh-subuh berikutnya dinikmati Jung Hyo dengan kesadaran penuh. Ia merasakan keindahan, bahkan menikmati kemesraan saat hujan-hujanan bersama Yoon Soo. Paginya mereka sama-sama bertemu di apotik membeli obat flu, akibat kehujanan di taman. Yoon Soo cerita kalau ia kehujanan. Jung Hyo juga cerita kalau ia juga kehujanan dan sangat menikmatinya dan belum pernah ia merasakan setertarik itu dengan hujan.

Kemesraan mereka terlihat oleh kekasih Jung Hyo, ia pun cemburu dan langsung meninju Yoon Soo. Sesampai di rumah, ibu dan kekasih Jung Hyo mengajak pindah rumah. Yoon Soo yang tak berdaya apa-apa hanya bisa sedih dan menderita.

Sebelum pindah dan sebagai perpisahan, Jung Hyo menemui Yoon Soo yang tengah berdansa sendirian di taman. Jung Hyo pun berdansa dengan Yoon Soo. Yoon Soo mengatakan bahwa dia tidak keberatan kalau gadis yang tengah menari dengannya itu tidak ingat dengan kedaian tersebut di alam nyata, namun tolong jadikan dia sebagai mimpi yang bisa diingat.

Paginya Yoon Soo melihat Jung Hyo naik ke truk yang membawa barang-barang keluarganya. Wartawan itu kaget dan langsung mengejar gadis impiannya dengan sepeda. Mobil berhenti dan Yoon Soo berkata,”Jangan pergi, ingatlah bahwa Subuh itu kita kehujanan dan sakit bersama”. Jung Hyo membalas ,”Saat kita kehujanan bersama dan sakit bersama, melihat bintang di antara pepohonan adalah saat yang indah dan aku tak akan melupakan kenangan itu.”

“Ya tapi kenangan itu menjadi mimpi untukmu, bukan untukku,” kata Yoon Soo. Dengan yakin Jung Hyo menjawab,”Aku akan mengenangnya sebagai kenangan dan bukan sebagai mimpi.” Yoon Hoo terpaksa melepas kepergian Jung Hyo yang pindah entah ke mana.

Di tempat barunya, Jung Hyo gelisah dan tidak bisa tidur. Ia mendengarkan musik Sebastian Bach pemberian Yoon Soo. Ia mengenang banyak kenangan indah dengan Yoon Soo. Tak tahan dengan rindu yang menderanya, hujan-hujanan Jung Hyo mengayuh sepedanya ke taman tempat biasa ia tertidur – dan yang terpenting tempat biasa ia bertemu dengan orang yang dirindukannya.

dari : myfilmblogs.com/sinemakorea

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: